Hati Muslimah

September 17, 2009

MENGENALKAN ALLAH DAN RASUL KEPADA ANAK

Filed under: Muslimah ideologis — hatimuslimah @ 4:22 am

Oleh: Dedeh Wahidah Achmad

Anak adalah aset terbesar bagi orangtua, bahkan umatnya. Bagi orangtua, anak-anak adalah buah hati di dunia, bahkan di akhirat. Karenanya, setiap orangtua senantiasa berupaya dan memanjatkan doa ke hadirat Allah Yang Mahasayang agar anak-anak mereka menjadi shalih/shalihah. Adapun bagi umat, anak-anak adalah penerus generasi untuk menerapkan, membela, dan memperjuangkan Islam.

Tulisan ini memaparkan teknis praktis bagaimana agar anak sejak usia dini mengenal Allah dan Rasul-Nya.

Apa yang Dikenalkan?

Persoalan utama yang harus dicamkan adalah anak harus mengenal Allah Swt. dan Rasulullah sebagai apa?  Pertanyaan ini penting dijawab agar upaya pengenalan anak kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi fokus.

Tentu, secara syar‘i anak harus mengenal: (1) Allah Swt. sebagai Penciptanya; (2) Allah sebagai Tempat kembalinya; (3) Allah sebagai Zat Yang akan menghisabnya; (4) Sifat-sifat Allah Swt.

Adapun berkaitan dengan Rasulullah saw., anak harus mengenal: (1) Rasulullah saw. sebagai manusia pilihan; (2) Rasulullah saw. sebagai manusia yang membawa wahyu-Nya; (3) Sifat-sifat dan perikehidupan Rasulullah saw.; (4) Perjuangan dan pengorbanan Rasulullah saw. untuk Islam dan umatnya; (5) Rasulullah saw. sebagai suri teladan bagi manusia.

Pertanyaan yang penting diajukan adalah: selama ini anak-anak kita lebih mengenal siapa?  Apakah mereka telah mengenal Allah, Rasul, dan al-Quran?  Ataukah mereka lebih mengenal Dora the Explorer, Sponge Bob, artis cilik, sinetron Bajaj Bajuri, Mr. Bean?  Alangkah rugi orangtua yang tidak berupaya untuk mengenalkan mereka kepada Allah, Zat Yang Mahaperkasa dan Rasulullah sebagai manusia utama.

Landasan

Pengenalan anak-anak kepada Allah dan Rasulullah ditujukan untuk menghunjamkan rasa cinta mereka kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya.  Tidak cukup jika mereka sekadar mengenal nama atau cerita semata. Menanamkan cinta hanya bisa dilakukan dengan cinta pula.  Karena itu, landasan pertama adalah cinta kepada anak. Ketika orangtua hendak mendarahdagingkan kecintaan kepada Allah dan Rasul dalam setiap aliran darah anak-anaknya, maka ia harus terlebih dulu menanamkan rasa cinta dalam jiwanya kepada anak-anak mereka.  Cermin dari kecintaan ini adalah: (1) Tertanam dalam jiwa bahwa anak-anak itu adalah buah hatinya; (2) Setiap berbicara dengan anak, tataplah matanya dengan cinta, dan bicaralah dengan penuh rasa cinta; (3) Niatkan bahwa apa yang disampaikan kepada anaknya adalah sebagai hadiah baik sekaligus tanda kasih sayangnya kepada mereka. Gagal memiliki kecintaan dalam mengenalkan anak kepada Allah Swt. dan Rasulullah merupakan tanda utama kegagalannya.

Pada sisi lain, setiap ucapan atau perilaku yang ditujukan untuk mengenalkan anak kepada al-Khaliq dan Rasulullah haruslah mengandung ’ruh’.  Artinya, ucapan dan perilaku kita sebagai orangtua pun harus lahir dari rasa cinta kita kepada Allah Swt. Mungkinkah seseorang yang tidak mengenal Allah dan Rasul dapat mengenalkan anak-anaknya kepada Zat Yang Mahaperkasa dan Rasul pilihan tersebut? Mungkinkah orang yang hampa dari kecintaan kepada keduanya dapat menghunjamkan kecintaan kepada anak-anaknya?  Mungkinkah orang yang mengenal Allah dan Rasul secara biasa-biasa saja dapat melahirkan generasi yang kecintaan kepada keduanya luar biasa?  Ammar bin Yasir sangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya karena ayah-ibunya, Yasir dan Sumayyah, adalah para pecinta Allah dan Rasul. Begitu juga, Abdullah bin Zubair; ia dibina oleh orangtuanya Asma binti Abu Bakar dan Zubair al-Awwam.

Landasan kedua adalah didik anak dengan cinta.

Ketiga, mendidik anak harus secara sengaja dan terprogram.  Mendidik anak dengan seadanya apalagi asal jalan merupakan bentuk ketidaksungguhan.  Nabi saw. pernah mengibaratkan bahwa mendidik anak di waktu kecil laksana mengukir di atas batu.  Artinya, cukup sulit, perlu energi besar, dan kesabaran.  Namun, jika berhasil, buahnya tak akan pernah hilang.

Langkah Praktis

Anak-anak memiliki dunianya sendiri.  Karenanya, perlu banyak contoh nyata yang langsung dialaminya dalam mengenalkan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Di antara langkah praktis yang dapat ditempuh antara lain:

1.  Formal.

Pendidikan anak secara formal berarti pendidikan di ruang kelas. Ruang kelas dimaksud bukan hanya sekadar di sekolah, melainkan juga bisa masjid atau bahkan rumah. Bisa bersama-sama dengan orang lain atau khusus anak-anak kita sendiri.  Misalnya, anak disekolahkan di sekolah yang pendidikan agamanya bagus, atau disuruh mengaji di masjid.        Pada sisi lain, di rumah sejatinya dilakukan pendidikan rutin untuk anak-anak.  Katakan saja, dibuat agenda kuliah subuh.  Ketika ayah ada di rumah maka yang memberi kuliah subuh kepada anak-anak adalah ayahnya. Namun, ketika sang ayah keluar kota, maka ibulah yang menjadi ustadzahnya. Tidak perlu lama, 10–15 menit cukup.  Saat azan subuh berkumandang, bangunkan anak-anak.  Kalaupun mereka sulit bangun, munculkan kesabaran, bangunkan dengan penuh cinta. Setelah mereka shalat, kumpulkanlah semua anak-anak.  Mungkin mereka sambil tiduran, tidak apa-apa. Jika di rumah ada komputer atau laptop, itu akan sangat membantu.  Buat kebiasaan, saat membangunkan anak telah dimainkan musik instrumentalia yang lembut mengalun. Secara psikologis, anak akan merasa segar, pikiran jernih, biasanya mereka segera bangun.  Materinya, dibuat variasi sesuai dengan tema mengenalkan anak kepada Allah dan Rasul di atas.  Sampaikan satu ayat atau hadis yang berkaitan. Jelaskan contoh-contoh makna yang mereka alami di rumah, jalan, sekolah, dll.  Perlu juga, sekali-kali kuliah subuh berupa nyanyi bersama.  Ayah dan ibu mengarang lagu sederhana sesuai tema. Anak-anak disuruh berdiri dan diajari bernyanyi.  Bisa juga mereka diajak menonton film perjuangan Rasul (Ar-Risâlah) secara berseri untuk beberapa hari.  Ayah/ibu menjelaskan siapa Rasul dan perjuangannya.

2.  Non-formal.

Secara non-formal, belikan anak-anak buku bertemakan Allah dan Rasulullah.  Biarkan mereka terbiasa membaca buku-buku tersebut. Untuk lebih menanamkan ’ruh’ cinta mereka, ayah atau ibunya yang menceritakan atau membacakan isi buku tersebut pada saat santai.  Bisa juga mengoleksi CD berisi doa atau cerita anak Islam, perjuangan Nabi, keindahan alam, dll.

Jika tidak ada sarana elektronik, ganti dengan bercerita tentang semua itu. Hal ini dapat dilakukan menjelang tidur. Seorang ayah atau ibu penting menjadi seorang pendongeng/pencerita hebat bagi anak-anaknya.

Jangan lupa, menanamkan anak mengenal Allah dan Rasul dapat dilakukan dengan mengajak mereka ke forum pengajian. Ajak sesekali mereka pada acara pengajian ayah atau ibunya.  Meskipun mungkin mereka tidak mengerti, tanpa kita sadari mereka akan mendarahdagingkan sikap dan perjuangan ayah/ibunya untuk mencintai Allah Swt. dan Rasulullah saw.

3. Internalisasi.

Internalisasi yang dimaksud di sini adalah mengenalkan anak kepada Allah dan Rasulullah melalui sikap dalam kehidupan keseharian. Hampir semua kejadian dapat digunakan untuk mengenalkan tautan jiwa kita itu kepada Allah Swt. dan Rasulullah. Sebagai contoh, saat Isya pulang dari masjid terlihat ada bulan, kita bisa bertanya kepada mereka, siapa pencipta bulan?  Lalu sambil berjalan kita menjelaskan kekuasaan Allah terkait dengan langit, bulan, dan bintang.  Hal yang sama dapat dilakukan untuk pohon, bunga, pasir, laut, dll.  Mungkin anak kita suka main boneka.  Kita tanya, bagus bonekanya?  Dia akan bilang, bagus. Setelah itu, jelaskan kehebatan Allah Swt. yang menciptakan adik bayi, bisa bergerak sendiri, kedap-kedip, nangis, dll.  Karenanya, katakan kepadanya bahwa manusia harus tunduk kepada Zat Yang Mahahebat, yaitu Allah Swt. Barangkali kita sering kelihatan capai oleh anak-anak, salah satunya karena dakwah.  Ketika itu datang berarti kesempatan untuk menjelaskan bahwa dakwah yang dilakukan ayah/ibu belum seberapa.  Rasulullah saw. berjuang dengan harta, pikiran, tenaga, bahkan mengorbankan nyawa.

4.  Doakan dengan cinta dan airmata.

Anak-anak kita memang lahir melalui kita, tetapi bukan milik kita.  Sering orangtua menghendaki anaknya begini atau begitu, tetapi dirasa sulit mencapainya. Tidak perlu mengalah apalagi menyerah. Berusaha terus.  Jangan lupa, ada senjata orangtua yang sangat utama: doa! Setiap kali usai shalat, doakanlah anak-anak kita agar mengenal dan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Bayangkan wajah mereka satu persatu mulai dari yang terbesar.  Doakan satu persatu sambil menyebut namanya. Mintalah kepada-Nya dengan penuh kesungguhan dan tetes airmata kecintaan. Akan bagus jika itu dilakukan juga di tengah malam saat para malaikat turun ke langit dunia, setelah shalat malam.  Ya, Allah, jadikanlah anak-anak kami mengenal serta mencintai-Mu dan  Rasul-Mu! []

Sumber : Majalah al-wa’ie

April 25, 2009

LARANGAN BERTABARRUJ BAGI WANITA

Filed under: Fiqih Nisa' — hatimuslimah @ 12:07 am

Dalam Islam ada larangan bagi wanita untuk melakukan tabarruj (menampakkan perhiasannya). Hukum tabarruj berbeda dengan hukum menutup aurat dan hukum mengenakan kerudung dan jilbab. Walaupun seorang wanita telah menutup aurat dan berbusana syar’iy, namun tidak menutup kemungkinan ia melakukan tabarruj.
Adapun larangan tabarruj telah ditetapkan Allah SWT dalam surat al-Nur ayat 60. Allah SWT berfirman :

“Dan perempuan-perempuan tua yang Telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian[1050] mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Bijaksana.”(An-Nuur:60)

Jika wanita tua saja dilarang untuk tabarruj, lebih-lebih lagi wanita yang belum tua dan masih mempunyai keinginan untuk menikah.

Imam Ibnu Mandzur, dalam lisaan al-Arab menyatakan :“Wa al-tabarruj : idzhaar al-mar’ah ziinatahaa wa mahaasinahaa li al-rijal (tabarruj adalah menampakkan perhiasan dan anggota tubuh untuk menaruh perhiasan kepada laki-laki non mahram).”


Perbuatan-Perbuatan yang Terkategori Tabarruj

Banyak hadits yang melarang setiap perbuatan yang bisa dikategorikan tabarruj; diantaranya adalah sbb:
1. Menegenakan pakaian tipis dan pakaian ketat yang merangsang.
Wanita yang mengenakan pakaian tipis, atau memakai busana ketat dan merangsang termasuk dalam kategori tabarruj. Nabi saw bersabda :
“Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihatnya; yakni sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti seekor sapi yang digunakan untuk meyakiti umat manusia; dan wanita yang membuka auratnya dan berpakaian tipis merangsang, berlenggak-lenggok dan berlagak, kepalanya digelung seperti punuk unta. Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya. Padahal, bau surga dapat tercium dari jarak sekian-sekian.” (HR. Imam Muslim)


Dan juga sabda Rasul saw :
“Betapa banyak wanita-wanta yang telanjang, berpakaian tipis merangsang, dan berlenggak-lenggok. Mereka tidak akan masuk kedalam surga dan mencium baunya.” (HR. Imam Bukhari)


Dari kedua hadits tersebut jelas dinyatakan bahwa yang menjadikan serorang wanita telanjang adalah karena pakainnya dan disebut telanjang karena pakaian tipis yang ia kenakan. Jika pakaiannya tipis maka ia bisa minyingkap dirinya, dan ini haram hukumnya. Serta tidak akan masuk surga wanita yang melakukan hal tersebut.

2. Mengenakan wewangian dihadapan laki-laki asing
Didalam hadits lain, dituturkan bahwasanya Nabi saw bersabda :
“Siapapun wanita yang memakai wewangian kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium baunya, berarti ia telah berzina.”(HR. Imam al-Nasaaiy)


Imam Muslim
juga menuturkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwasannya nabi saw bersabda :
“Setiap wanita yang memakai wewangian, janganlah ia mengerjakan sholat ‘isya’ bersama kami.” (HR. Muslim)


Dua hadits diatas menjelaskan bahwa seorang wanita mukminat dilarang keluar rumah atau berada diantara laki-laki dengan mengenakan wewangian yang dominan. Adapun sifat wewangian bagi wanita mukminat adalah tidak kentara baunya dan mencolok warnanya. Ketentuan semacam ini didasarkan pada sabdda Rasulullah saw :
“ Ketahuilah parfum pria adalah yang tercium baunya, dan tidak terlihat warnanya. Sedangkan parfum wanita adalah yang tampak warnanyadan tidak tercium baunya.”(HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud)


3. Berdandan menor dan berlebihan
Berdandan atau bersolek dg tidak seperti biasanya atau berlebihan adalah termasuk tabarruj. Misalnya memakai bedak tebal, eye shadow, lipstick dg warna mencolok dan merangsang, dan lain sebagainya. Imam bukhari menyatakan, bahwa “tabarruj adalah tindakan wanita yang menampakkan kecantikannya kepada orang lain.”
Larangan tersebut juga teah disebutkan dalam al-Qur’an. Allah SWT berfirman :
“Janganlah mereka memukul-mukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (An-Nuur:31)
Ayat ini juga menunjukkan keharaman tabarruj. Sedangkan definisi tabarruj adalah idzhaar al-ziinah wa al-mahaasin li al-ajaanib (menampakkan perhiasan dan kecantikan kepada laki-laki yang bukan mahram).
Berdandan menor, baik dengan lipstick, bedak, eye shadow, dan lain sebagainya dipandang merupakan tindakan tabarruj. Sebab semua tindakan ini ditujukan untuk menampakkan kecantikan dirinya kepada orang yang bukan mahram.

4. Membuka sebagian aurat
Wanita yang mengenakan topi kepala tanpa berkerudung, mengenakan celana tanpa mengenakan jilbab, memakai kerudung tetapi kalung dan anting-antingnya tampak, dan sebagainya, termasuk dalam tabarruj. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Rasul saw:
“Ada dua golongan manusia, yang masuk nerak ……………………………….., dan wanita yang membuka auratnya dan berpakaian tipis merangsang dan berlenggak-lenggok dan berlagak, kepalanya digelung seperti punuk unta. Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya………..”(HR. Imam Muslim)


Didalam syarah Shahih Muslim, Imam Nawawiy berkata “Hadits ini termasuk salah satu mukjizat kenabian. Sungguh, akan muncul kedua golongan itu. Hadits ini bertutur tentang celaan kepada dua golongan tersebut………. Sedangkan ulama lain berpendapat, bahwa mereka adalah wanita-wanita yang menutup sebagian tubuhnya, dan menyingkap sebagaian tubuhnya yang lain, untuk menampakkan kecantikannya atau karena tujuan lain.”
Dewasa ini kita banyak menyaksikan wanita muslimah yang mengenakan kerudung dg kemeja dan celana panjang ketat hingga menampakkan seksualitas dan kecantikan mereka. Disisi lain kita juga banyak menyaksikan wanita muslimah yang mengenakan kain penutup kepala, tetapi sebagian rambut, leher, telinganya terlihat dengan jelas. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan semacam ini terkategori tabarruj.

Sesungguhnya, perbutan-perbuatan yang terkategori tabarruj masih banyak, tidak hanya lima perbuatan yang telah dijelaskan diatas. Masih banayk perbuatan-perbuatan lain yang termasuk tabarruj. Yang jelas, setiap upaya mengenakan perhiasan atau menampakkan perhiasan secara tidak wajar yang akan mengundang pandangan laki-laki non mahram, termasuk tindakan tabarruj.
Hanya saja berhiasnya seorang istri di hadapan suaminya, atau berdandannya istri ketika berada di rumah, adalah tindakan yang diperbolehkan tanpa ada khilaf (perbedaan pendapat).

Sumber : Hukum Islam ‘Seputar Busana & Penampian Wanita’

April 16, 2009

Sadar…

Filed under: Uncategorized — hatimuslimah @ 2:14 am

Sadar…

Suatu malam Aku berdo’a, ku pejamkan mataku. Ku pahami bahwa Allah Maha Keras siksa-Nya. Sangat keras! Neraka dengan malaikat Malik-Nya adalah milik-Nya dan berjalan dibawah kuasa-Nya. Berikutnya aku merenung, kalau aku waktu kecil dulu saja bisa merasakan kelugasan dan kekerasan sikap ayahku, dan aku merasa bersalah, apalagi ini…, terhadap Tuhan “Allah”, Rabbul Izzati. Lantas…, bagaimana amalku, bagaimana sisa usiaku, apakah terjamin hidup masih lama…, bagaimana dengan dosa-dosa…, bagaimana…, bagaimana…
Perih rasanya! Untuk mengurangi keperihan itu aku mencoba merenungi, bahwa Allah juga Maha Penyayang. Ia adalah Ar-Rahim. Aku coba rasakan bahwa aku ini dimiliki oleh pihak yang sangat sangat sangat penyayang. Dan pihak yang sangat penyayang ini menaungiku. Kalau aku waktu kecil saja bisa merasakan kehadiran ibuku dengan segala sikap sayangnya, apalagi ini…, Allah, asal muasal rasa sayang. Ada perasaan diayomi, dilindungi, dibuat mudah, seakan kita terjerembab tapi ada yang menyangga.
Kapan marahnya ayahku hilang? Ketika terkalahkan oleh rasa sayangnya. Kapan itu muncul? Saat melihat munculnya kesungguhanku yang tak kenal lelah. Saat melihat bahwa upayaku saat itu adalah pembuktian keseriusan tertinggi seakan selain  waktu itu tak ada waktu pembuktian lagi. Saat melihat aku pasrah dengan segala sanksi yang akan ia berikan sekaligus percaya bahwa ayah bisa berbuat sanksi yang tegas.
Kapan marahnya ayahku tak hilang? Ketika keseriusanku hanyalah kepura-puraan. Ketika ia bisa membaca bahwa aku berpikir “Paling-paling nanti tidak tega…” ketika ia bisa mengetahui isi benakku saat itu “kalau ingin membuat ayah…, caranya adalah…”
Ini bukan penyerupaan Tuhan dan orang tua. Tapi, kalau terhadap orang tua aku bisa memahami dan menerima itu semua, mengapa terhadap Tuhan tidak?
Dan apa arti dosa? Bayangkan saat kita merasa dikhianati. Kesal sekali rasanya! Sementara dosa adalah penghianatan terhadap Tuhan. Aku tidak ingin menyatakan bahwa Ia juga kesal terhadap kita. Tapi memang Ia sangat berhak untuk “kesal”. Dan kalau yang “kesal” itu Tuhan, pemilik segala apa yang kita pegang, penguasa seluruh tempat yang kita lalui…, mau apa kita, mau kemana kita…Bumi tak sudi kita injak. Langit bosan melihat kita. Daun-daun seperti jarum yang mau menghujani. Burung-burung siap menukik dari atas. Tak ada kedamaian.
Dan apa arti “disayangi Tuhan”? Disayangi penguasa segala yang ada dan segala tempat yang kita pijak. Disayangi pihak yang mampu memberikan apa saja. Pihak yang bisa memberikan kasih sayang lebih dari kasih sayang siapapun. Pihak yang memiliki segala bahaya di depan kita. Sementara bahaya itu tidak bisa mengenai kita kecuali atas izin-Nya.
Betapa luar biasa makna “radhiallahu ‘anhu” yang dimiliki para sahabat. Kebahagiaan apalagi yang lebih tinggi dari itu.
Kalau ingat itu, betapa bodohnya aku, sangat bodoh. Tapi aku juga sadar, setelah merenung pun berapa kali aku tetap bodoh. Jika aku disebut keledai, itu masih pujian (keledai hanya dua kesalahan).
Mengapa bisa begitu? Karena ini bukan sekadar diketahui, atau sekadar menjadi pemikiran kita. Kesadaran jenis ini sebenrnya sudah menjadi pemikiran kita, tapi butuh dibangkitkan untuk menjadi pengakuan yang sempurna, dan berikutnya kehendak yang kuat untuk berbuat sesuai pengakuan itu.

* * *
Kesadaran : kadang bermakna “terbukanya benak”, kadang bermakna “terdorongnya kehendak”.
Umat Islam sekarang tidak bisa menjalankan misinya secara sempurna. Sangat jauh dari sempurna. Allah menegaskan bahwa hidup manusia adalah untuk beribadah. Namun melihat lingkungan kita, benarkah ibadah? Allah menegaskan bahwa hendaknya umat Islam menegakkan agamanya. Namun apakah dakwah Islam yang selama ini mengintari dunia? Atau “dakwah” pemikiran yang bertentangan dengan Islam yang justru mengintari umat Islam? Allah menegaskan bahwa hendaknya umat Islam tidak terkendalikan umat lain. Namun ternyata kalau sekarang dikatakan umat ini dikendalikan pihak lain, nampaknya itu masih “pujian” (kenyataannya lebih buruk dari itu). Bagaimana dengan “benak” dan “kehendak” kolektif sekarang?
Umat Islam zaman khulafaurrasyidin benar-benar nampak bahwa hidupnya untuk ibadah, untuk mengemban pelaksanaan Islam, untuk hidup mandiri, bahkan menyinari bumi dengan Islam. Tentu itu karena terbukanya benak dan terdorongnya kehendak. Secara sempurna. Itulah mengapa kesadaran mereka sempurna.
Aku membayangkan suasana semacam itu menaungi kita, umat Islam masa sekarang : terbukanya benak, terdorongnya kehendak, secara sempurna. Aku membayangkan. Aku membayangkan!

Hidup manusia di dunia adalah untuk mengemban misi. Ia
berperan sebagai agen atas misi itu. Bertugas menjalankan
perintah “tuan”, Allah Rabbul Izzati. Dunia dengan segala
pernak-perniknya adalah lahan untuk persemaian Syariah-Nya.

March 23, 2009

Mempersiapkan Anak Memasuki Usia Baligh

Filed under: Muslimah ideologis — hatimuslimah @ 3:21 pm

Dalam perkembangannya, seorang anak akan mengalami perubahan secara fisik maupun psikis dari masa kanak-kanak mennuju masa dewasa. Di antara dua masa tersebut, ada masa peralihan, yang bisa di kenal dengan istilah reaja atau masa puber. Namun, dalam pandangan Islam status seorang hamba di hadapan syariah hanya di akui dalam dua fase, yaitu fase kanak-kanak dan fase dewasa (baligh) Adanya perbedaan di antara dua fase ini disebabkan perbedaan dalam hal terbebani hukum syariah (mukkalaf) dan tidak terbebani hukum syariah (ghayru mukallaf). Seorang yang telah dewasa (baligh) dan memiliki akal yang sehat secara oomatis terkena segala konsekuensi dan bertanggung jawab penuh atas seluruh amal perbuatannya. Dia mendapat pahala jika melakukan perbuatan wajib dan sunnah, dan berdosa ketika melakukan perbuatan haram. Adapun anak kecil atau orang dewasa yg tidak sempurna akalnya maka tidaklah terbebani.

Tanda-tanda baligh

Tanda-tanda baligh biasanya terjadi ketika anak mencapai usia 10-15 tahun untuk anak perempuan dan 12-15 tahun untuk anak laki-laki. Dengan ciri2 tertentu seperti : tumbuhnya bulu dada, bulu2 halus pada anak laki2, suara membesar hingga terjadi menstruasi (haid) atau bermimpi (ihtilam). Secara psikologis tampak pada rasa “ingin dilihat cantik atau jantan”, ketertarikan terhadap lawan jenis, emosi yang meledak-ledak, dll. Oleh karena itu penting bagi rang tua untuk mengamati perkembangan anak2nya dan mempersiapkan segala yg dibutuhkan baik secara fisik, mental, ilmu maupun amal sehingga ketika baligh kepribadian islam anak telah terbentuk.

Mempersiapkan Anak Memasuki Usia Baligh

Mempersiapkan anak2 memasuki usia baligh tidak hanya semata-mata mempersiapkan mereka secara individu untuk bisa menjalani hidup, tetapi juga dalam rangka menjalankan tugas mulia yaitu sebagai hamba AlLoh Swt. Artinya, memasuki usia baligh anak dipersiapkan menjadi pemimpin yang terbaik bagi umat pada masa yang akan datang untuk menegakkan kalimat AlLoh di muka Bumi dan menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil’alamin melalui tegaknya syariah dan khilafah.

Berikut ini hal-hal yang dapat dilakukan orang tua dalam mempersiapkan anaknya memasuki usia baligh seawal mungkin (sejak usia pra baligh – sekitar 7 tahun sampai 10 tahun) :

  1. Mengokohkan keyakinan (aqidah)
  2. menanamkan konsekuensi beriman pada Al Qur’an
  3. Hal-hal yang wajib atau sunah sudah harus dibiasakan
  4. Perbekalan tsaqofah Islam
  5. Mengajarkan dan membiasakan adab-adab (akhlak islami) terhadap orang tua
  6. Membentengi anak dari pengaruh tayangan
  7. dalam hal pergaulan dengan lawan jenis, mulai di biasakan terpisah antara laki-laki dan perempuan.
  8. menjelang baligh mereka diajari tentang pengetahuan tanda-tanda baligh (menstruasi dan mimpi)
  9. membekali anak dengan keterampilan hidup
  10. Anak yg berusia 10th ke atas mulai diajak berfikir untuk membaca persoalan umat
  11. Pemanfaatan teknologi
  12. Melatih keberanian

sumber : Majalah Al wa’ie

March 18, 2009

Tanya-Jawab

Filed under: Tanya-Jawab — hatimuslimah @ 4:49 am

Kategori ini diperuntukkan khusus untuk sahabat. Bagi sahabat yang mau bertanya, curhat, ataupun berbagi cerita, please feel free to contact us at hati_muslimah@yahoo.com. Insya Allah email masuk yang terpilih akan kami post di blog ini…

March 17, 2009

Mendidik Anak Taat Syariah

Filed under: Muslimah ideologis — hatimuslimah @ 2:33 pm

Oleh: Ummu Azkiya

Menjadi orangtua pada zaman globalisasi saat ini tidak mudah. Apalagi jika orangtua mengharapkan anaknya tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga taat dan salih. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tidaklah cukup. Mendidik sendiri dan membatasi pergaulan di rumah juga tidak mungkin. Membiarkan mereka lepas bergaul di lingkungannya cukup berisiko. Lalu, bagaimana cara menjadi orangtua yang bijak dan arif untuk menjadikan anak-anaknya taat pada syariah?

Asah Akal Anak untuk Berpikir yang Benar

Hampir setiap orangtua mengeluhkan betapa saat ini sangat sulit mendidik anak. Bukan saja sikap anak-anak zaman sekarang yang lebih berani dan agak ‘sulit diatur’, tetapi juga tantangan arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi yang turut memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan perilaku anak.

“Anak-anak sekarang beda dengan anak-anak dulu. Anak dulu kan takut dan segan sama orangtua dan guru. Sekarang, anak berani membantah dan susah diatur. Ada saja alasan mereka!”

Begitu rata-rata komentar para orangtua terhadap anaknya. Yang paling sederhana, misalnya, menyuruh anak shalat. Sudah jamak para ibu ngomel-ngomel, bahkan sambil membentak, atau mengancam sang anak agar mematikan TV dan segera shalat. Di satu sisi banyak juga ibu-ibu yang enggan mematikan telenovela/sinetron kesayangannya dan menunda shalat. Fenomena ini jelas membingungkan anak.

Pandai dan beraninya anak-anak sekarang dalam berargumen untuk menolak perintah atau nasihat, oleh sebagian orangtua atau guru, mungkin dianggap sebagai sikap bandel atau susah diatur. Padahal bisa jadi hal itu karena kecerdasan atau keingintahuannya yang besar membuat dia menjawab atau bertanya; tidak melulu mereka menurut dan diam (karena takut) seperti anak-anak zaman dulu.

Dalam persoalan ini, orangtua haruslah memperhatikan dua hal yaitu: Pertama, memberikan informasi yang benar, yaitu yang bersumber dari ajaran Islam. Informasi yang diberikan meliputi semua hal yang menyangkut rukun iman, rukun Islam dan hukum-hukum syariah. Tentu cara memberikannya bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak. Yang penting adalah merangsang anak untuk mempergunakan akalnya untuk berpikir dengan benar. Pada tahap ini orangtua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang. Sebab, tidak sekali diajarkan, anak langsung mengerti dan menurut seperti keinginan kita. Dalam hal shalat, misalnya, tidak bisa anak didoktrin dengan ancaman, “Pokoknya kalau kamu nggak shalat dosa. Mama nggak akan belikan hadiah kalau kamu malas shalat!”

Ajak dulu anak mengetahui informasi yang bisa merangsang anak untuk menalar mengapa dia harus shalat. Lalu, terus-menerus anak diajak shalat berjamaah di rumah, juga di masjid, agar anak mengetahui bahwa banyak orang Muslim yang lainnya juga melakukan shalat.

Kedua, jadilah Anda teladan pertama bagi anak. Ini untuk menjaga kepercayaan anak agar tidak ganti mengomeli Anda—karena Anda hanya pintar mengomel tetapi tidak pintar memberikan contoh.

Terbiasa memahami persoalan dengan berpatokan pada informasi yang benar adalah cara untuk mengasah ketajaman mereka menggunakan akalnya. Kelak, ketika anak sudah sempurna akalnya, kita berharap, mereka mempunyai prinsip yang tegas dan benar; bukan menjadi anak yang gampang terpengaruh oleh tren pergaulan atau takut dikatakan menjadi anak yang tidak ‘gaul’.

Tanamkan Akidah dan Syariah Sejak Dini

Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua. Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak. Rasulullah saw. bersabda:

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR al-Bukhari).

Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak mengenal betul siapa Allah. Sejak si bayi dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah. Begitu sudah lahir, orangtua mempunyai kesempatan untuk membiasakan si bayi mendengarkan ayat-ayat al-Quran. Pada usia dini anak harus diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada Allah.

Lebih jauh, anak dikenalkan dengan asma dan sifat-sifat Allah. Dengan begitu, anak mengetahui betapa Allah Mahabesar, Mahaperkasa, Mahakaya, Mahakasih, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan seterusnya. Jika anak bisa memahaminya dengan baik, insya Allah, akan tumbuh sebuah kesadaran pada anak untuk senantiasa mengagungkan Allah dan bergantung hanya kepada Allah. Lebih dari itu, kita berharap, dengan itu akan tumbuh benih kecintaan anak kepada Allah; cinta yang akan mendorongnya gemar melakukan amal yang dicintai Allah.

Penanaman akidah pada anak harus disertai dengan pengenalan hukum-hukum syariah secara bertahap. Proses pembelajarannya bisa dimulai dengan memotivasi anak untuk senang melakukan hal-hal yang dicintai oleh Allah, misalnya, dengan mengajak shalat, berdoa, atau membaca al-Quran bersama.

Yang tidak kalah penting adalah menanamkan akhlâq al-karîmah seperti berbakti kepada orangtua, santun dan sayang kepada sesama, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya. Jangan sampai luput untuk mengajarkan itu semua semata-mata untuk meraih ridha Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau pamrih duniawi.

Kerjasama Ayah dan Ibu

Tentu saja, anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan hukum jika dia melihat contoh real pada orangtuanya. Orangtua adalah guru dan orang terdekat bagi si anak yang harus menjadi panutan. Karenanya, orangtua dituntut untuk bekerja keras untuk memberikan contoh dalam memelihara ketaatan serta ketekunan dalam beribadah dan beramal salih. Insya Allah, dengan begitu, anak akan mudah diingatkan secara sukarela.

Keberhasilan mengajari anak dalam sebuah keluarga memerlukan kerjasama yang kompak antara ayah dan ibu. Jika ayah dan ibu masing-masing mempunyai target dan cara yang berbeda dalam mendidik anak, tentu anak akan bingung, bahkan mungkin akan memanfaatkan orangtua menjadi kambing hitam dalam kesalahan yang dilakukannya. Ambil contoh, anak yang mencari-cari alasan agar tidak shalat. Ayahnya memaksanya agar shalat, sementara ibunya malah membelanya. Dalam kondisi demikian, jangan salahkan anak jika dia mengatakan, “Kata ibu boleh nggak shalat kalau lagi sakit. Sekarang aku kan lagi batuk, nih…”

Peran Lingkungan, Keluarga, dan Masyarakat

Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak belumlah cukup untuk mengantarkan si anak menjadi manusia yang berkepribadian Islam. Anak juga membutuhkan sosialisasi dengan lingkungan tempat dia beraktivitas, baik di sekolah, sekitar rumah, maupun masyarakat secara luas.

Di sisi inilah, lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Masyarakat yang menganut nilai-nilai, aturan, dan pemikiran Islam, seperti yang dianut juga oleh sebuah keluarga Muslim, akan mampu mengantarkan si anak menjadi seorang Muslim sejati.

Potret masyarakat sekarang yang sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran materialisme, sekularisme, permisivisme, hedonisme, dan liberalisme merupakan tantangan besar bagi keluarga Muslim. Hal ini yang menjadikan si anak hidup dalam sebuah lingkungan yang membuatnya berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi dia mendapatkan pengajaran Islam dari keluarga, namun di sisi lain anak bergaul dalam lingkungan yang sarat dengan nilai yang bertentangan dengan Islam.

Tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi anak. Untuk mengatasi persoalan ini, maka dakwah untuk mengubah sistem masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam mutlak harus di lakukan. Hanya dengan itu akan muncul generasi Islam yang taat syariah. Insya Allah.

Sembilan Tips Mendidik Anak Taat Syariah

1. Tumbuhkan kecintaan pertama dan utama kepada Allah.

2. Ajak anak Anda mengidolakan pribadi Rasulullah.

3. Ajak anak Anda terbiasa menghapal, membaca, dan memahami al-Quran.

4. Tanamkan kebiasaan beramal untuk meraih surga dan kasih sayang Allah.

5. Siapkan reward (penghargaan) dan sanksi yang mendidik untuk amal baik dan amal buruknya.

6. Yang terpenting, Anda menjadi teladan dalam beribadah dan beramal salih.

7. Ajarkan secara bertahap hukum-hukum syariah sebelum usia balig.

8. Ramaikan rumah, mushola, dan masjid di lingkungan Anda dengan kajian Islam, dimana Anda dan anak Anda berperan aktif.

9. Ajarkan anak bertanggung jawab terhadap kewajiban-kewajiban untuk dirinya, keluarganya, lingkungannya, dan dakwah Islam.

The Rubric Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.